Aku Akan Mencintaimu dengan Berhati-hati

Pertama sekali ditulis di Medium.

Seperti ketika pertama sekali aku mengendarai sepeda, aku dilimbung gelisah. Sekitarku terasa berputar. Beberapa orang yang kukenal tampak dari jauh memperhatikan. Aku takut, lalu mengayuh dengan berhati-hati.

Seperti memilih merantau ke luar kota untuk kuliah. Di kota asing yang menjanjikan kebahagiaan, keriuhan, teman-teman baru, bisokop yang tak pernah sepi, namun meninggalkan ibuku sendirian menua di desa yang sepi dan terus merindukanku. Aku khawatir, lalu pergi dengan berhati-hati.

Seperti mencari buku sastra lama di toko buku loak seberang rel kereta api yang digusur pemerintah. Setelah beberapa kali membeli, aku kini akrab dengan para penjual, saling bercengkrama, lalu mendengar cerita-cerita lama mereka. Di antara buku-buku dan cerita itu, aku dimakan waktu hingga petang. Aku takut, lalu membeli satu buku saja.

Dan seperti pertama sekali aku melihatmu malam itu, kau diam dan aku mengabaikanmu. Pada waktu yang sebentar kita telah memiliki sebuah percakapan dan kehilangan sebuah malam. Kau menciptakan mitos-mitos perihal simpul senyum yang singkat dan tanah-tanah yang ditelan hujan. Untuk pertama kalinya aku kembali menjadi masa lalu. Kau seperti menolak mengaku aku. Esok paginya, kau menghilang.

Aku akan mencintaimu dengan berhati-hati, agar waktu tidak singkat lagi, agar hujan tidak selamanya lagi, agar malam tidak sepi lagi, agar aku tidak sendiri lagi, agar kau tidak pergi lagi.

Advertisements

Tentang Patah Hati, dari Penulis yang Paling Paham Maknanya

“Hal paling menyedihkan tentang cinta, Joe, bukanlah karena cinta tidak akan bertahan lama, namun bahkan patah hatipun akan segera terlupakan.” – William Faulkner

 

“Mungkin suatu hari aku akan merangkak lagi ke rumah, terpukul, terkalahkan. Namun tidak selama aku bisa membuat cerita dari patah hatiku, keindahan menyeruak dari kesedihan.” – Silvia Plath

 

“Hati diciptakan untuk dipatahkan.” – Oscar Wilde

 

“Hanya keberuntungan semata, menrindukan seseorang jauh sebelum mereka meninggalkanmu.” – Toni Morrison

 

“Pada akhirnya, akan selalu ada, semacam kebahagiaan dari ketidakbahagiaan, jika itu merupakan ketidakbahagiaan yang tepat.” – Jonathan Franzen

 

“Kau tidak bisa memendam amarah ketika kau sedang tenggelam dalam cinta. Yang kau dapat lakukan hanyalah menyampah dengan teriakan, dan membuat dirimu sendiri kelelahan.” – Margaret Atwood

 

“Kau pikir rasa sakitmu dan patah hatimu belum pernah terjadi dalam sejarah dunia, namun kemudian kamu membaca buku. Bukulah yang mengajarkanku bahwa hal-hal yang paling menyiksaku adalah mereka yang menghubungkanku dengan seluruh orang yang telah hidup, atau mereka yang pernah hidup.” – James Baldwin

 

“Patah hati itu aneh bagi semua orang kecuali mereka yang pernah merasakannya.” – Jeffrey Eugenides

 

“Tragedi terbesar kehidupan bukanlah tentang manusia yang meninggal, namun mereka yang berhenti mencintai.” – W. Somerset Maugham

 

“Mungkin itulah kenapa cerita-cerita yang sangat bermakna membuat seseorang patah hati. Hatimu dan perutmu  dan seluruh isi dalam tubuhmu terasa kosong dan hampa dan sakit.” – Gabriel Garcia Marquez

 

“Keindahan dunia memiliki dua sisi, satu dari tawa, satu dari derita, memotong hati menjadi berkeping-keping.” – Virginia Woolf

 

“Hati dapat hancur. Ya, hati dapat hancur. Kadang aku berpikir jika baiknya kita mati ketia hati hancur, tetapi kita tidak mati.” – Stephen King.

Tentang Cinta, Dari Penulis yang Paling Paham Maknanya.

“Cinta tidak dimulai dan berakhir seperti kita yang kita pikirkan. Cinta adalah pertempuran, cinta adalah perang; cinta adalah tentang mendewasakan diri.” – James Baldwin

 

“Ketika dia membaca, aku jatuh cinta seperti kau jatuh tertidur: perlahan-lahan, lalu sekaligus.” – John Green

 

“Jangan takut akan kehilangan. Jika benar, pasti akan terjadi. Jangan terburu-buru, segala yang baik tidak akan pergi begitu saja.” – John Steinbeck

 

“Cinta adalah tentang: terbang menuju langit rahasia, membuat ratusan cadar jatuh setiap saat. Pertama melepaskan hidup. Pada akhirnya, melangkah tanpa kaki.” – Rumi

 

“Aku hampir jatuh cinta padanya ketika kami berdua duduk berdampingan. Itulah masalah yang ada pada setiap wanita. Setiap kali mereka melakukan sesuatu yang indah… kau hampir jatuh cinta dengannya, dan kemudian kau tidak pernah tahu di mana dirimu akhirnya.” – J.D. Salinger

 

“Mungkin… kau akan jatuh cinta lagi padaku.”
“Tidak mungkin,” ujarku, “Aku sudah cukup mencintaimu saat ini. Apa yang akan kau lakukan? Menghancurkanku?”
“Ya. Aku akan menghancurkanmu.”
“Baguslah,” ujarku. “Itu yang juga aku inginkan.” – Ernest Hemmingway

 

“Cinta adalah wajah kehidupan, punggung kematian, awal penciptaan, dan lambang desah nafas.” – Emily Dickinson

 

“Cinta tidak melihat dengan mata, namun dengan pikiran.” – Shakespeare

 

“Cinta adalah hasrat yang paling kuat, karena menyerang kepala, hati, dan rasa secara bersamaan.” – Lao Tzu

 

“Cinta terdiri dari hal ini: dua kesendirian yang bertemu, melindungi dan menyapa satu sama lain.” – Rainer Maria Rilke

 

“Cinta adalah suara di balik semua sunyi, harapan yang tidak sebanding dengan rasa takut; kekuatan yang sangat lesat hingga paksaan terlihat lemah: Kebenaran yang lebih dahulu dari pada matahari, lebih abadi dari bintang.” – E.E. Cummings

 

“Untuk mendapatkan nilai yang utuh dari sebuah kebahagiaan, pertama kau harus memiliki seseorang untuk membaginya.” – Mark Twain

11 Kutipan Paling Inspiratif dari Muhammad Ali

getty_52634746_970639970450046_95350

 

 

 

Selama karir hidupnya, Muhammad Ali — juara tinju kelas berat, peraih medali emas olimpiade, dan aktivis hak asasi sipil — menerima reputasi karena pandangan hidupnya yang positif dan motivasional. Walaupun dia tidak pernah masuk ke dunia bisnis, namun banyak sekali imperium bisnis dibangun dari prestasi dan kercerdasannya, dan menginspirasi jutaan orang-orang di seluruh dunia. Continue reading

Jaring Laba-laba

1kdgsox843dypuhwoswuajw

Aku menulis tentangmu
Setiap hari

Di setiap puisi-puisi dan cerita-cerita dan coretan-coretan kau akan menemukan petunjukan yang mengarahkanmu satu langkah menuju ruang berbayang, berkabut, berilusi yang kunamakan kepalaku. Beberapa petunjuk senyap, beberapa yang lain kutampakkan lamat-lamat. Beberapa petunjuk tertulis lebih samar karena aku tidak ingin dunia tahu kegila-gilaanku terhadapmu. Aku masih mengingat dengan jelas percapakan terakhir kita di pikiranku, caramu berbicara, topik percakapan yang tidak mengarah kemana-mana, hidup seperti kita hanya dua bintang biner yang memutar satu dengan yang lain, tidak pernah bertemu, hingga satu hari, kita mungkin akan berbenturan menjadi sebuah lubang hitam tempat kita membakar diri sendiri. Kebenaran cerita kita kubuat-buat dengan tumpukan-tumpukan kebohongan, dipintal dengan cerman menjadi kata dan percakapan dan cerita tengah malam di kamar-kamar yang sunyi, kita cukup cerdas untuk tidak pernah mengungkapkan siapa diri kita sekarang, dan dahulu.

Untuk apa kita berbicara perihal kenyataan, ketika ketika telah mengaburkan segala yang ada di depan mata?

Dunia kita tidak terhenti pada batasan-batasan dari apa yang kita dapat lihat, dapat sentuh, tidak, kita telah pergi jauh, kita bermain-main dengan apa yang telah dan apa yang kita dapat lakukan. Waktu serasa tidak penting ketika kita bersama, seperti terapung seperti udara-udara di depan kita, seperti jaring laba-laba yang terlihat melayang ringan sekali ketika kau meniupnya perlahan. Ketika aku bersamamu, dahulu, aku seperti menjadi ahli fisika yang melihat keajaiban dunia dan menemukan makna di balik ruang dan waktu selama percakapan kita karena; apalah ruang dan waktu itu jika tidak berubah?

Aku tahu. Dan aku mengerti. Dan itu kejujuranku.

Dari jaring laba-laba, kita masih dapat melihat “keluar”, di mana dunia masih dapat melayang tanpa kita, tidak pernah terlintas di kepala kita bahwa kita dapat menjadi bagian dari mereka kelak.

Aku masih menulis tentangmu, Telah lebih dari setengah windu dan sembilan hari dan aku masih menghitung dari waktu-waktu kita tidak lagi berbicara. Di dalam kepalaku, aku melihat kursi tempat di mana kita biasa duduk diam, melihat satu sama lain dengan mata berbinar-binar. Cara kita, yang terbiasa menyenandungkan nada-nada, kadang, jemarimu bermain-main dengan piano lenyap ketika aku sedang duduk dan membicarakan perihal melodi. Di dalam mata kepalaku, aku melihat air mengalir di depan kita ketika kita membicarakan tentang kata-kata dan mimpi-mimpi dan perahu dan cinta.

1zw6talckezfhamdpabwusq

Aku masih menulis perihalmu. Aku cukup bodoh berpikir bahwa hari ini akan memanjang ke masa depan, jika hanya kita duduk diam, jika kita hanya ‘membicarakan’ waktu. Namun takdir, jika kita hanya memanggil bagian dari waktu yang, memiliki rencana-rencana lain, yang membisikkan di telinga-telingamu ketika aku sedang mengalihkan pandangan dan seperti itu, ketika aku membalik, kau telah hilang. Hilang bersama percapakan-percakapan, hilang bersama kursi-kursi taman, hilang bersama musik dan hilang bersama matamu. Yang tertinggal hanyalah jaring laba-laba ketika aku mengeluarkannya dari sisi yang lain.

1o7dayw4lnzhpmsr2g36udg

Sekarang, kadang-karang, ketika aku mencoba tertidur, di antara tidur dan bermimpi, aku pergi dan berdiri di depan jaring laba-laba dan mencoba melihat sepintasnya berharap dapat melihatmu lagi.

Mereka takut hujan

Entah mengapa, segala hal di kota ini terasa tergesa-gesa. Mobil-mobil berkejaran, orang-orang berdesakan, pikiran-pikiran berlarian, hujan-hujan berjatuhan. Tidak ada yang mempersiapkan diri, tidak ada yang peduli, hanya ada beberapa orang yang tidak punya alasan lagi selain bersembunyi di bawah kursi-kursi taman kota.

Ketika kau masuk ke kota ini, awalnya kau akan membenci segala hal. Namun lama-kelamaan, yang kau benci hanyalah dirimu sendiri dan alasan-alasan mengapa kau tak segera keluar dari kota yang terkutuk ini. Tidak ada yang salah, tidak ada yang membenarkan.

Aku tidak suka tergesa-gesa, jalanku lambat, waktuku banyak. Di antara semua orang di kota ini, aku orang yang paling santai. Aku tidak mengejar apa-apa, mereka tampak mengejar segala hal yang mereka lihat. Aku melihat mereka melihat kesepian. Aku tidak melihat apa-apa selain kesepian.

Mereka seperti itu, karena mereka takut kesepian. Ternyata, tergesa-gesa adalah satu-satunya cara melupakan kesepian sejenak, hingga mereka terlalu lelah dan pulang mengabaikan sunyi. Besok, mereka bangun pagi, takut dengan masa depan yang terlalu dekat, lalu kembali tergesa-gesa mengejar apa yang mereka lihat.

Aku benci tergesa-gesa, aku benci kota ini, aku benci mereka, aku benci hujan di sini.

Hujan Serta Kita yang Saling Tak Mengenal

Hujan serta buku-buku yang kesepian
Hujan serta semua orang yang sedang berpura-pura
Hujan serta kursi taman yang merindukan kering
Hujan dan kita yang enggan lagi berbicara

Hujan serta pohon-pohon yang menari
Hujan serta beranda-beranda ruko yang menghangatkan para gelandang
Hujan serta jalan raya yang ditakuti pengendara
Hujan dan kenangan-kenangan yang mengetuk jendela

Hujan serta tubuh-tubuh yang bergeliat
Hujan serta kepalamu yang tak pernah basah
Hujan serta kota yang tak bisa melarikan diri
Hujan dan rindu yang merindukan pelukan

Hujan serta rima yang dipaksakan
Hujan serta penulis yang melupakan diri
Hujan serta azan yang lamat-lamat
Hujan dan aku yang mencintaimu sambil senyap