Pekan Rekomendasi Film – Hari #3

1ppc0ghassvyibbccwyh48g

Berikut ini merupakan film-film rekomendasi saya di hari #3 dengan tema: PENEMUAN & INOVASI

Continue reading

Advertisements

dan Kecantikan Membekas. Padanya

1ljahmxwcros2cku9k_-tpq

Aku ingin menuliskan kata-kata untuknya
Aku ingin mendengar suaranya membicarakan pikiranku
Aku ingin melihatnya memahamiku

Aku suka suara rupa raut dia lakukan

dengan mata tajamnya
dengan hidung kecilnya
dengan pita suara tak tahu malunya

Dia muda dan liar dan bebas

segala hal yang aku inginkan padanya

Dia adalah aku
Dia adalah dia
Dia adalah kita

Pandangan menyeringai dari matanya
Senyuman lembut yang berasal dari kerutan bibirnya
Pelukan kecil yang bertahan selamanya

Aku suka jalannya larinya jedanya

tawa aneh
gelitik lucunya
pelukan terlembut

Mata riang
Bulu mata lentik
dan kecantikan membekas

padanya

cinta dengan cinta dibuat oleh cinta
dan kita adalah saat ini
kita

Padamkan cahaya

1_oiigeh__tgzgsijtq7prg

Setiap orang punya. Yang biasanya tidak membuat panik, namun kadang kalanya mereka selalu ada, berjalan di sekitar kita. Ialah bayangan.

Kadang kala ia seperti mengambil alih hidup dan menjadi raksasa yang menunggu di sudut kamar yang paling rahasia. Kita menghidupkan lampu berharap ketakutan itu akan pergi menjauh.

Tapi tidak selamanya cahaya menjadi jawaban. Ia malah sering membuat bayangan menjadi semakin kuat. Mungkin itu hanya perihal sudut, siapa yang tahu? Atau mungkin itu hanya kata bijak yang mengatakan pada kita untuk memilih duduk di kegelapan sejenak agar melemahkan bayangan.

Setelah mata menyesuaikan diri untuk melihat di dalam kegelapan. Seluruh indra kita menguat mengimbangi kurangnya cahaya. Kita mendengar, mencium dan merasakan dengan kekuatan yang lebih besar. Kita dapat menjelajahi pikiran, mimpi, memahami mimpi buruk kita.

Ialah ketika saat itu, kita memilih medan perang yang sama untuk melemahkan bayangan, ialah saat itu kekuatan kita menjadi seimbang.

Seperti ketika kita menyelam di laut dalam, untuk mengetahui apa yang membuat bayangan kita terbebas, meyakini segala hal memiliki sisi gelap. Dan cara terbaik untuk mengetahuinya lebih khidmat ialah.

Dengan memadamkan cahaya.

Quote

Menyakitkan, untuk jatuh cinta padanya lagi, tetapi itulah yang aku harapkan.
Menginginkan kehancuran. Menemukan keindahan padanya, dan melebur di dalam kekacauan.

Pengabaian Menenangkan

2320380557_8aedafbd5f

Aku berhenti di lampu merah di dalam mobil melihat seorang yang tak memiliki rumah, tidak memakai pakaian yang layak, berjumlah lebih dari setengah lusin, mengemis di jalanan penuh debu penuh pengendara letih penuh dengan makian di pikiran yang siap dikeluarkan. Apakah aku memberikan mereka satu persatu uang receh yang ada di sakuku? Lalu jika aku berhenti di lima atau lebih lampu merah di hari ini, apakah aku harus memberikan satu persatu uang sakuku kepada mereka? Apakah semua orang yang sedang di dalam mobil atau mereka yang kepalanya terbakar matahari membawa motor harus memberikan uang saku yang mereka telah susah payah mengumpulkannya demi semua orang di jalanan mengemis untuk makan malam hari ini. Apakah uangku cukup untuk membuat mereka tidak lagi mengemis untuk esok harinya lagi atau membuat anak mereka dapat bersekolah hingga bulan depan? Semua orang memilih tidak mau tahu.

Pengabaian menenangkan

Di pagi buta, aku mendengar jeritan wanita muda di pinggir rumahku dirampok segerombolan orang memakai pisau. Dompet, uang, dan motornya raib dicuri orang tepat di depannya. Dia histeris trauma bahkan hanya untuk memikirkannya. Aku sedang tidur di dalam rumah dengan ingatan pada kata-kata orang untuk tidak keluar lagi ketika sudah larut malam atau pagi buta. Wanita muda itu kesepian sendirian dengan tangis yang meraung meminta tolong agar seseorang dapat membantunya mengembalikan seluruh barang berharganya yang raib. Apakah aku harus keluar dan menolong wanita muda itu? Apa yang bisa kulakukan? Mengejar perampok itu hingga tertangkap. Lalu jika ternyata mereka terlampau banyak untukku dan melakukan pertengkaran terbuka, siapa yang akan membantuku? Apakah yang kulakukan untuk wanita muda ini cukup berharga untuknya? Apakah jikalaupun aku keluar dan memberikan bahuku untuknya beristirahat melupakan sejenak peristiwa traumatis itu akan membantunya mengembalikan seluruh barang berharganya? Semua orang memilih tidak mau ikut campur.

Pengabaian menenangkan

Majalah dinding di kampus menampilkan sesosok anak balita yang terkena penyakit leukimia dan harus menerima bantuan trombosit dengan golongan darah yang langka. Semua orang hanya lalu lalang setiap hari tanpa melihat sedikitpun sosok anak yang sedang menderita ini. Umurnya baru dua bulan, tubuhnya membiru, nafasnya dibantu alat-alat dan selang kecil. Golongan darahku ialah golongan yang paling umum dan mustahil aku membantunya hanya dengan menggunakan golongan darahku. Apakah aku harus memanggil semua orang yang kukenal lalu meminta mereka membantu anak malang ini? Apakah aku harus datang ke pusat penggolongan darah dan meminta mereka mencari darah yang dimaksud sedang aku kini disibukkan oleh ujian akhir semester? Apakah aku akan merasa bersalah jika aku hanya memandang poster ini lalu melupakannya tepat beberapa menit setelah itu? Apakah tidak ada satu orangpun yang merasa bersalah tidak melihat poster ini di majalah dinding padahal mereka setiap hari lalu lalang di depannya? Semua orang memilih tidak ingin mengetahui.

Pengabaian menenangkan

Ada seorang temanku yang kesulitan dengan skripsinya. Ini tahun terakhir dan mustahil dia dapat lulus jika nalarnya tidak sanggup memecahkan persoalan yang dia ambil sebagai judulnya. Sedang aku telah lulus, telah lulus tahun lalu dan bekerja di tempat yang membanggakan. Namun dia temanku. Apakah aku harus membantunya? Jika aku membantunya, akankah dia akan merepotkanku? Skripsi menghabiskan banyak waktu, apakah dia paham bahwa waktu berbanding lurus dengan uang. Aku akan kehabisan banyak tenaga dan waktu hanya untuk memikirkan sesuatu yang bahkan dia saja tak memikirkannya. Apakah hal ini cukup berharga untuk dilakukan? Apakah dia masih ingat lima sepuluh tahun mendatang perihal aku yang telah bersusah payah menghabiskan waktu untuknya? Masih banyak yang harus kupikirkan selain dia — uang, modal, orang tua, pacar, masa depan. Semua orang memilih tidak mau tahu.

Pengabaian menenangkan

Wanita yang memiliki hatiku bulan depan akan menikah dengan pria pujaan hatinya. Aku mendapatkan undangan untuk pernikahannya dan aku terpaksa berjanji agar datang di hari pernikahannya. Aku tidak tahu apa yang harus kusampaikan padanya ketika dia membelikanku kemeja untuk kukenakan di hari pernikahannya. Aku mengiyakan padahal di dalam hati tidak ingin sekalipun melukai hatiku lagi. Apakah aku harus datang? Apakah aku harus berkorban untuknya lagi? Apakah dia akan mengerti walaupun aku telah mengatakan padanya tidak ada yang dapat menggantikannya di hatiku? Apakah dia benar-benar peduli padaku? Apakah kedatanganku pada pernikahannya sudah cukup berharga untuknya? Apakah aku harus terluka untuk terakhir kalinya? Aku memilih tidak mau tahu.

Pengabaian menenangkan.

Jika mengabaikan, menenengkan. Mengapa masih banyak orang tidak berbahagia?

Janji

Jumpa aku di sana, seikat bunga,
Kita menunggu sepanjang jam-jam dingin
Tahun akan meraung di dinding,
Menghancurkan pintu-pintu waktu

Bersembunyi ketika kita pergi

Dan berjanjilah padaku
Kau hanya akan menungguku,
Takut pada lengan-lengan yang kesepian.

Timbul, jauh di bawah kata-kata ini

Dan mungkin, mungkin aku akan pulang

Siapakah aku untukmu, sayang?
Siapakah aku?
Akankah kau mengatakan padaku
Siapakah aku?

Siapakah aku untukmu, sayang?
Siapakah aku?
Akankah aku terkubur waktu, sendirian
Siapakah aku, untukmu?

Aku datang sendirian
Aku datang sendirian, untukmu

Kau, wajah hangat yang tiba-tiba asing

Kekhawatiran menghantui kepala-kepala para kekasih yang gemar mengabaikan takdir. Mereka serta diorama bisu di balik layar dengan kotak musik enggan memutar. Kita di Kota ini masih saja meributkan siapa yang sedang mengapa. Tak ada perihal lain yang diinginkan selain ciuman-ciuman basah dan kepala-kepala yang tak pernah sepi pengunjung.

Rumah ini dinyatakan kosong tepat ketika kau menjadikannya terminal persinggahan, bukan stasiun terakhir. Di beranda, tinggal kursi goyang yang sibuk sendiri dan sendok teh yang tak henti-hentinya berdenting menyisir pinggir cangkir.

Di sebuah malam, aku menjadikan kedatanganmu sebagai sesuatu yang kurindukan. Aku tak menyangka wajah yang berjalan lambat dari kaca mobil itu ialah kau yang tengah tersenyum memilih pergi. Begitu banyak mereka: sepi, rindu, kawan, wajah, kota, kata, kau menghindar ke tempat masing-masing setelah pertemuan satu dua kali denganku.

Kau dan kata-kata sama saja, bertebaran di pikiranku tapi sukar sekali dirapikan. Bisakah seseorang menerka masa depan? Jika demikian, izinkan aku menerka perihal kau pergi dan aku akan sendiri, lagi. Sebab, ada ingatan timbul tenggelam tentang kau yang tak pernah menyayangiku dan aku yang tak pernah ada di kelapamu.

Kau seperti aksara-aksara arab yang kutahu, kulafal, kuhafal, kuulang, lalu terlupakan. Tidak, bukan karena ingin dilupakan, tapi mereka tak pernah ingin diingat. Seperti kau dan senja yang hanya sebentar itu.

Kau, wajah hangat yang tiba-tiba asing. Jika saja sebelum kita lupa, kau mengerti bahwa aku menginginkan kita ada, selamanya.