6 Kutipan perihal Kreatifitas dari Pablo Picasso

20151105182332-picasso-art-artist-pablo

Saya baru saja membaca sebuah gagasan yang menarik: Jika Albert Einstein tidak pernah lahir, pada akhirnya seseorang akan menemukan teori relativitas. Bagaimanapun, jika Pablo Picasso tidak pernah lahir, karyanya tidak pernah akan tercipta. Itu adalah sesuatu yang harus kita renungkan.

Di umurnya yang ke 9, Picasso menyelesaikan lukisan pertamanya: Le Picador, tentang seorang lelaki mengendarai kuda di pertandingan banteng.

Rupanya, Picasso merupakan murid nakal dan memiliki masalah serius dengan aturan. Saya membaca bahwa dia akan “kesal pada apapun yang disuruh padanya” dan dia sering dihukum di sekolah. Pekerjaan pertama Picasso kurang menjanjikan. Dia menandatangi kotrak seni pertamanya di Paris dengan penjual lukisan Pere Menach, yang setuju membayarnya 150 francs per bulan (kira-kira 7,5 juta rupiah saat ini).

Meskipun awal kehidupannya agak berguncang, Picasso menjadi salah satu seniman paling berpengaruh di abad 20an, dan memiliki warisan abadi yang mendorong batas kreatifitas kita hari ini. Berikut beberapa nasehat yang paling saya sukai dari Pablo Picasso:

Continue reading

Advertisements

Di dalam ingatanku, Kita telah Berumur empat tahun

Kau mungkin telah lupa perihal kita. Namun aku, aku akan selalu menolak lupa. Aku tidak akan melupakan perihal warna biru di antara kita, warna kesukaanku. Biru di gaun kacamata baju tas punggung heels lantai gedung kursi mata pohon langit dadamu. Warna yang mempertemukan kita di sebuah gedung berlantai 25. Tidak ada yang berencana, tidak ada yang merencanakan. Tiba-tiba saja kita ada dan itu segalanya. Ah! sungguh ironis, mengingat segala yang berakhir “a” tidak akan pernah terjadi di antara kita.

Selasa. Segala. Kita. Ada. Fa.

Aku menolak lupa ketika pertama sekali kita saling memandang di atas sana dan bertanya dalam hati apakah kita semestinya bertemu atau menganggap mata hanya cara terburuk memulai pertemuan. Lalu aku mencari kesibukan sembari kau mencari apapun yang membuatmu datang kemari. Aku bersama temanku dan kau bersama sahabatmu. Di lantai itu, aku mondar-mandir mencari alasan-alasan konyol ingin membuka percakapan yang mungkin tidak akan membuatmu penasaran padaku. Lalu di sebuah ruang, entah bagaimana kita dipertemukan dengan sangat erat. Sungguh aneh ketika yang membuka pertemuan pertama sekali ialah temanku, padamu, hanya untuk menunjukkan bahwa deduksiku padanya, ternyata benar untukmu.

Aku tidak berani menatapmu pada saat itu, padahal hanya itu yang aku inginkan sejak pertama sekali lift menyala dan kau keluar dari dalamnya. Seperti pintu kemana saja dan kau berasal dari langit yang jauh di atas langit. Langit-langit terluas dari galaksi dengan aturan-aturan abstrak yang belum dipecahkan oleh para ilmuan. Kau berasal dari sana.

Aku menolak lupa sejak saat itu aku mencoba mengakrabkan diri denganmu dan pada saat itu juga aku jatuh padamu. Kita berbagi nomor telepon genggam, yang ajaibnya aku bisa mengingatnya hingga hari ini, angka demi angka. Lalu warna kesukaanku berubah dari biru menjadi jingga, bukan jingga kuat seperti buah oranye, namun jingga lembut seperti warna matahari terbenam. Kita selalu berjumpa setelah pukul empat sore lalu membicarakan tentang segala hal.

Perihal rumah, keluarga, trotoar, awan, rumput liar, lampu jalan, bangku taman, hujan, daun basah, embun pagi, toko-toko yang sepi pengunjung, kamar kosong, beranda, kopi hitam, cangkir-cangkir, lalu-lalang jalanan, penyair yang mati sendirian, puisi, penjual permen, hiasan di jemarimu, kacamatamu yang sering patah, keringat dinginku, panggung sandiwara, teater koma, pasangan-pasangan yang berteduh usai menyalin tugas, wanita penjual buku bekas, para hokian yang ramah, tentangmu yang tak ingin kuliah di kota ini, kota yang sibuk dengan masing-masing, orang asing yang tersenyum padamu, lagu-lagu indie yang kukumpulkan untuk kita dengarkan, smoothies, es krim, milkshake vanilla kesukaanmu, pipi sayuku, kata-kata, dan kita.

Aku menolak lupa ketika kau terlambat masuk kuliah, pada saat itu sedang pukul 07.30 dan kau menghubungiku karena kau dimarahi oleh dosen dan kau sendirian di depan pintu kelasmu. Kita sama-sama belum makan pagi kala itu, lalu kau membawaku ke suatu tempat yang tak pernah kukunjungi, kita makan pagi di sana. Kau dengan sarapan yang kau bawa dari rumah, dan aku dengan susu panas dan bubur ayam. Lalu kau bercerita lagi, dengan aksen kampungmu yang sangat lucu, gigi taringmu yang berdisposisi, dan kaca mata barumu yang berwarna merah.

Lalu aku menyukai warna merah, bukan seperti warna merah darah, namun seperti merah magenta. Lembut sekali, seperti pipimu.

Aku menolak lupa perihal kau yang sangat boros sekali, setiap saat membeli milkshake vanilla atau smoothies strawberry. Menghabiskan uang ke tempat-tempat yang bahkan kau tidak bisa menghitungnya. Lalu aku hanya tersenyum, menasehatimu satu dua hal tentang bagaimana menjaga uang dengan baik – padahal aku sendiri juga sangat boros. Aku senang sekali melihat kau tertawa dan pipimu langsung memerah seperti tomat, dan aku ingin sekali mencubitnya. Kau mengatakan tidak boleh, dan aku menghormatimu.

Aku menolak lupa perihal kita yang selalu berjanji untuk berjumpa di cafe depan kampus setelah petang, jika kita tidak sedang ingin berjalan-jalan. Selalu, hampir setiap hari. Kau selalu memesankan milkshake kesukaan kita dengan warna yang selalu berbeda. Kau bilang agar kau bisa mencicipi punyaku dan sebaliknya. Seperti yin dan yang, saling melengkapi. Lalu aku mendengarkan ceritamu tentang hari itu dan kampus yang selalu tidak pernah sepi pengunjung. Kau bahagia, aku berbahagia karenamu.

Aku menolak lupa perihal suatu petang ketika hujan sedang deras-derasnya dan angkot bernomor 41 menuju rumahmu tidak lagi datang padahal waktu telah malam sekali dan hujan sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Aku menunggumu menunggu angkot. Aku menyarankan agar aku membawamu ke rumah, namun kau tidak ingin. Menjaga marwah ialah prioritasmu dan aku menghormatinya. Pukul delapan lewat tiga puluh menit, tidak ada yang lalu lalang ingin menjemputmu, membawamu pulang. Pada akhirnya aku bersikeras memintamu membawamu pulang. Kau mengiyakan dan aku terbawa membawamu.

Aku menolak lupa pada saat itu bagaimana hujan sederas badai katrina di sisi lain bumi menjadi gerimis yang selalu aku doakan kedatangannya. Lembut bercampur pirang lampu jalan. Tidak ada orang lain selain kita yang terburu-buru dan terbata-bata karena dingin. Namun punggungku yang menyentuh tubuhmu, hangat dibuatnya. Di persimpangan rumahmu, tidak ada hujan selain gerimis teduh tempat tupai menggunakan embunnya untuk menyimpan — dan melupakan — biji kacang yang ditanamnya. Di persimpangan rumahmu, aku telah merindukanmu yang bergaun putih seperti kenari. Cantik sekali. Kita sedikit bercerita dan aku menemukan rumahmu untuk pertama kalinya. Salah satu malam paling bahagia dalam hidupku.

Aku menolak lupa ketika kata-kata keluar dari jemariku seperti mata air yang keluar dari kaki-kaki bayi Ismail ketika tanah kering tersumpah tandus. Kau membuatku untuk pertama kalinya dapat menulis untukmu segala hal yang ada di dalam pikiranku dan segala hal yang ada di dalam semesta teratur di kepalamu. Aku menulismu di tulisanku lalu, kini, dan masa depan. Kau yang menuliskan padaku tulisan-tulisan itu, aku hanya menggariskannya agar dilihat orang sebagai karya seni setelah masa renaisans. Aku menjadikanmu seorang penulis biografi dari kau bangun pagi dengan rambut ikal yang lari kemana-mana hingga kau tidur lagi membacakan doa untuk semua makhluk di alam semesta.

Aku menolak lupa ketika kita berteduh seusai kau mengikuti tes di sebuah kampus lalu kita beristirahat di sanggar favoritmu. Aku mengingat lagu Payung Teduh berputar di pikiranku, dan menyanyikan Resah di mulutmu. Aku bahagia ketika lantun kita bersejajar dengan bayangan matahari dari daun-daun tempat pohon mengelilingi sanggar itu. Kau memakai gaun magenta dan hatiku memerah karenamu.

Aku menolak lupa ketika pertama — dan mungkin untuk terakhir kalinya — kita berbuka puasa bersama di mall pusat kota. Aku datang ke rumahmu, menyimpan motorku, lalu kita berjalan-jalan ke sana. Kau memakai baju hitam berukir bunga dengan perasan warna merah. Kau cantik sekali dan aku tidak bisa berjalan-jalan lama di dekatmu, aku takut luluh, cair seperti es di kutub selatan. Kita berdua berdekap hingga ke lantai tiga dan menunggu upacara pemakaman matahari menjadi perayaan terbesar dalam hidupku. Aku masih ingat, sebelum kita ingin makan malam, aku meminta foto pada pegawai agar aku punya bukti bahwa seluruh ratusan tulisanku untukmu bukan fiksi belaka. Kau mengiyakan, tapi azan sudah berkumandang. Kita hanya punya kesempatan untuk makan malam, bercerita tentang kita, lalu berjalan kembali ke rumah masing-masing. Aku masih mengingat itu, sangat. Setiap hari.

Aku menolak lupa ketika aku bersama tangga nada MI dan dibantu tangga nada SO membuat siasah bagaimana seorang bertangga nada RE dapat mengirimkan sebuah pertanda bagi keluarga FA. Bersama seorang temanku, aku menjamumu selama dua jam dari tempatku menuju istanamu saat kau dan aku sedang mendatangkan ketenangan. Tidak ada rencana apa-apa sebenarnya, namun semua berubah ketika kau mengatakan ada seorang pangeran tampan dari Turki ingin sekali bertemu denganmu — dan mungkin ingin segera melamarmu. Itu menjadi berita buruk padaku, lalu dengan dibantu oleh mereka, aku memberanikan diri untuk datang satu hari sebelum pangeran tampanmu yang berwajah pantulan mesjid biru datang menjemputmu.

Dan warna magenta dari tubuhmu membuatku jadi tak bisa berbicara apapun lagi. Siasat perang yang telah kami susun dengan matang, hilang seperti jejak kaki di pasir pantai. Aku menggagapkan gugupku di depan ayahmu ibumu saudara laki-lakimu temanku kamu. Aku tidak datang dengan tangan kosong, buku — yang tidak dijual di mana-mana — yang sudah kupersiapkan untukmu  menjadi alasan konyolku agar kau dapat berbicara denganku. Walaupun sesaat, namun itu cukup.

Aku menolak lupa perihal kau kemudian dimarahi oleh ibumu ketika ternyata kau tidak membawa kami ke lantai atas, ke ruang keluargamu. Kau sangat merasa bersalah dan aku hanya tersenyum, berimajinasi perihal apapun, segala yang benar, segala yang salah, segala yang di ambang batas. Aku mengatakan tak apa, lalu kau tenang kembali.

Aku menolak lupa perihal janji-janjiku pada Tuhan yang mungkin tidak akan pernah kutepati lagi karena aku bisa jadi tidak akan pernah menjadi milikmu. Namun aku sadar bahwa hatimu seperti tembok berlin dan kata-kataku hanya lumpur. Kau mungkin akan mengira bahwa lumpurku tidak akan pernah dapat merobohkan tembokmu. Tapi satu hal, sayang, lumpur itu akan terus melekat di sana. Hingga kau tua, hingga kau memiliki anak, hingga kau berbahagia di berandamu. Dan lumpur itu akan terus ada menjadi menyekat bagi cerita-ceritamu di masa tua pada cucu-cucumu.

Aku ingin kita tidak hanya bercerita, aku ingin kita masuk dan menjadi cerita itu. Tapi ujar Tuhan, wanita yang baik untuk pria yang baik, dan itu sudah cukup membuktikan jika aku tidak akan pernah dapat memilikimu.

Terima kasih untuk terus menjadi kita. Terima kasih telah memberikanku sebuah pandangan hidup perihal cinta, tulisan, memoar, rindu, Islam.

Ingatlah.

Empat tahun lalu, di hari ini, 26 januari, kita merayakan hari jadi setengah windu.

Kemarilah

Ditulis ketika sedang mendengarkan: “Hold Back the River” – James Bay

Aku merindukanmu.

Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena kau juga tidak akan mengerti. Entahlah, jikapun kau bisa… tidak semudah itu aku dapat mengatakannya padamu. Namun aku benar benar benar merindukanmu.

Hanya baru-baru sekarang ini aku memikirkanmu lagi, jika aku boleh jujur. Aku kembali mengingat gambar-gambar lama, kenangan yang benar-benar tua tentang kita yang tak pernah lagi melihat cahaya dari film-film tebal dengan debu tentang kita jutaan tahun cahaya. Semakin banyak kujelajah, semakin banyak jaring laba-laba di ingatan yang tak pernah kusinggahi lagi. Aku ingat segala hal yang membuatmu tertawa, segala hal aneh kau lakukan tanpa memeperdulikan siapa yang akan menilaimu, segala imajinasimu yang akan berlari entah kemana tanpa terinfeksi racun keingin-tahuan apa yang orang lain pikirkan tentang pikiranmu.

Padahal aku telah menyimpanmu dalam-dalam, sekarang kau menginginkan perhatianku lagi, dan aku memaksa. Aku masih memaksa. Karena aku ingin mengingat.

Aku ingin mengingat perihal kesukaan, kau dan aku. Apa yang penting, apa yang berarti — atau terlihat berarti — di saat itu, perihal masa-bodohmu tentang kreatifitas yang tak tahu malu. Kau tahu, segala hal yang kita dapat lihat lagi saat ini, dan menangis tertawa atau kesedihan menjulang dari belakang.

Aku tidak bisa memutuskan jika kau akan melihatku hari ini dan bangga dengan apa yang telah aku capai..atau mungkin kau akan jijik dengan penjara mental yang membatasi diriku sendiri. Aku tidak yakin jika kau tahu fakta bahwa aku tidak yakin akan lulus pada ujian apapun, yang mungkin aku takut aku tidak akan tahu siapa diriku tanpa sauh membenarkan diri sendiri oleh orang lain — sauh yang sama yang menawarkanku dukungan ketika aku terus menolaknya. Aku tidak tahu jika kau akan pikirkan perihalku saat ini..atau jika aku telah menjadi seorang pria yang aku percaya sekali tidak akan menjadi seperti itu.

Namun perihal itu tidak penting lagi saat ini. Yang berarti kini ialah, aku meningat. Aku mengingat perihal kamu. Dan aku tidak akan pernah lupa membuatmu bangga, lagi.

Aku merindukanmu.

3 Pengusaha Gagal Sebelum Akhirnya Mereka Sukses

Colonel Sanders tidak membuka KFC hingga berumur 62 tahun. Sony memulai usaha pertama kalinya dengan membuat penanak nasi elektrik.

Mimpi datang dengan banyak sekali asumsi dan janji. Yang, jika kamu bekerja keras, mimpimu akan jadi terpenuhi; jika kau sabar, kau akan menang. Mimpi tidaklah sehitam-putih itu, dan banyak yang mengerti perihalnya.
Orang-orang mengerti bahwa lompat untuk mengejar kebahagiaan datang dengan kemungkinan-kemungkinan bahaya. Kebahagiaan saling berpasangan. Setelah kau mengejarnya, kemungkinan kau akan berakhir bahagia, atau tidak; dan yang cukup menakutkan orang-orang untuk melompat ialah kemungkinan kalau kau akan gagal. Sangat lebih mudah bertahan dengan cerita “Baiklah, jika aku lompat, aku mungkin akan sukses.”
Mimpi saling berpasangan pada level-makro. Kau bisa saja berhasil atau gagal. Walaupun pada level-mikro, kau tidak bisa memperlakukannya dengan logika yang sama. Jika kau ‘melompat’ dan gagal sebulan kemudian, kau tidak benar-benar gagal. Mencari kebahagiaan ialah sebuah “perjalanan ribuan kilometer,” usaha sebulan hanyalah dianggap sebagai langkah-langkah kecil saja.
Pelari maraton dapat tersandung ketika baru saja keluar dari garis start dan masih dapat menang.

Continue reading

Berhenti Terjebak

1iynzkxzz104dag-7ivssiq

Aku orang yang paling sulit move on.

Ketika aku berumur 12 tahun, Aku jatuh cinta dengan seorang wanita di sekolahku. Teman-temanku telah memperingatkanku kalau aku tidak akan mendapatkan kesempatan: dia tidak akan pernah jalan denganku. Memang benar, Saat itu aku memakai kacamata bundar dengan sweater jelek yang tidak muat. Harry Potter tanpa bekas luka, tanpa sihir.

Tapi aku punya rencana jahat. Suatu hari aku membelikannya gelang. Aku memutuskan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan itu padanya. Dia pasti akan jatuh cinta padaku.

Momen sempurna itu tidak pernah kejadian. Ternyata dia tidak pernah menyukaiku.

Aku terjebak.


Alasan bagus dan alasan sebenarnya

Aku meminta nasehat seorang programmer di Google yang kujumpai di sebuah acara workshop tentang membangun startup.

‘Jangan terjebak’, katanya. Aku mengangguk seperti mengerti, padahal sebenarnya tidak. Namun nasehat itu bukan nasehat membangun startup, nasehat itu nasehat kehidupan.

Aku selalu terjebak.

Aku ingin menulis artikel yang bagus namun belum pernah menerbitkan apapun selama tiga bulan terakhir.

Aku ingin membangun startup sempurna. Sekarang, beberapa temanku telah memulai startup mereka sendiri. Aku tidak.

Aku punya banyak alasan-alasan bagus menjelaskan mengapa aku tidak bisa seperti mereka:

‘Aku ingin menjadi programmer handal sebelum membangun startup.’
‘Aku menunggu teman yang tepat membangun startup.’
‘Segala hal akan lebih mudah ketika aku telah lulus.’

Setiap orang memiliki dua alasan ketika melakukan apapun: alasan bagus dan alasan sebenarnya ~ J.P. Morgan

Menunggu, menunggu, menunggu. Selalu ada alasan yang bagus untuk menunggu. Namun sebaik apapun alasanmu, alasan itu tidak akan pernah menjadi alasan yang sebenarnya.

Ketakutan adalah alasan sebenarnya.

Aku membaca, tidak peduli apapun yang kau lakukan, sepertiga orang akan menyukaimu, sepertiga orang akan membecimu, dan sepertiga yang lain tidak peduli.

Masalahnya: Aku ingin semua orang menyukaiku. Kegagalan tidak membuatku takut, terlihat seperti kegagalan menakutkanku.

Tidak ada yang sempurna. Bahkan MacBook milikku saja punya kelemahan (dan Steve Jobs yang merancangnya). Melakukan sesuatu sesempurna mungkin ialah cara bagus untuk tidak melakukan apapun.

Tidak ada yang sempurna membuatku ragu-ragu. Ironis sekali, Aku memiliki masalah terbesar menerbitkan artikel yang menceritakan bagaimana caranya agar tidak terjebak.

Artikel ini terjebak karena keraguanku.

Terjebak bukan perihal ketrampilan, pengalaman atau uang. Terjebak selalu tentang rasa takut. Takut ditolak, terlihat seperti orang idiot, atau terlihat tidak keren.

Takut sendirian.


Rasa Takut itu bermanfaat.

Tidak ada gunanya menunggu momen yang sempurna. Malah tidak ada yang namanya momen sempurna.

Bayangkan dua orang: pertama, yang pernah membaca ratusan buku tentang wanita. kedua, yang pernah berbicara dengan ratusan wanita. Siapa kira-kira yang paling berpeluang mendapatkan kekasih?

Penolakan ialah kunci mencapai tujuanmu. Itu berarti kau benar-benar melakukan sesuatu yang berguna. Rasa takut ialah tanda bahwa kau melakukan sesuatu yang bermakna.

Walaupun begitu, banyak terlintas di pikiranku ketika aku melakukan sesuatu yang menakutkanku:

Aku harus dewasa dan mengambil pekerjaan normal.
Tidak bakalan ada wanita yang menyukaiku.

Mudah sekali rasanya menyerah. Ketika itu terjadi, Aku mencoba memikirkan tentang sesuatu yang akan kuingat ketika aku tua.

Aku tidak akan mengingat jam-jam yang aku habiskan bermain FIFA di ruang keluarga.

Aku tidak akan mengingat hal-hal yang tidak pernah aku lakukan

Aku akan mengingat hal yang membuatku takut, gembira, tak diduga. Rasa takut membangun startup yang kuimpikan agar aplikasiku dapat membantu orang-orang yang kusayangi.

Ketika saatnya tiba, kau tidak akan ingat bagaimana laba startup-mu naik di Q1. Kau akan mengingat hal-hal tidak biasa yang mendorongmu ke depan. Ketika kau memutuskan bahwa kau tidak ingin menunggu hal-hal yang penting bagimu.

Saat ini, aku jatuh cinta dengan seseorang yang telah lama aku kagumi. Aku telah belajar sesuatu. Dengan seluruh tubuhku yang gemetaran, aku datang padanya dan mengatakan:

‘Aku jatuh cinta padamu.’

Saat itu merupakan momen yang paling menakutkan dalam hidupku.

Dia hanya diam dan tersenyum.

Dan aku sadar dunia tidak lagi sama semenjak itu.

35 Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Perancis

Perancis baru-baru saja dinobatkan sebagai negara yang paling banyak dikunjungi di dunia, dengan lebih dari 84 juta pengunjung pada tahun 2013 – dengan alasan yang sangat bagus.

Jutaan orang berkunjung ke Perancis setiap tahun untuk berjalan-jalan sepanjang Quays of Paris, berbaring di pantai Indah di French Riviera, dan mencicipi anggur lokal di Bordeaux.

Ini daftar 35 tempat terbaik di Perancis bagi kamu traveler yang ingin mencoba sesuatu yang baru. Continue reading

14 Pengusaha Teknologi yang Tidak Perlu Kuliah untuk Menjadi Milioner

Untuk kebanyakan murid, awal September berarti waktu untuk kembali ke sekolah. Tapi tidak untuk semua orang, terlebih di dunia teknologi.

Investor kondang seperti Peter Thiel, sebagai contoh, membayar 1 Miliar Rupiah untuk setiap anak yang ingin berhenti kuliah dan mulai membangun perusahaannya sendiri.

Peter Thiel sepertinya benar, kebanyakan pengusaha teknologi yang paling sukses telah mengantongi miliaran Rupiah bahkan tanpa perlu menyelesaikan kuliahnya. Entah untuk berhenti kuliah atau tidak itu terserah kamu, namun jika kamu merupakan salah satu orang yang selalu kepikiran untuk berhenti kuliah dan mengembangkan perusahaanmu sendiri, ada 14 pengusaha terkenal yang mungkin bisa menjadi inspirasi kamu. Continue reading

Tips Terbaik bagi Introvert untuk Menemukan Teman

Saya baru saja menemukan bahwa introvert dan rasa malu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Kita telah didoktrin dengan definisi (salah) bahwa “introvert” dan “extrovert” merupakan sinonim dan “malu” dan “supel.” Definisi ini tidak tepat. Introversion dan extroversion kira-kira berarti dari mana kita mendapatkan energi, dan bagaimana kita mengisi kembali energi di pikiran kita: Continue reading