6 Kutipan perihal Kreatifitas dari Pablo Picasso

20151105182332-picasso-art-artist-pablo

Saya baru saja membaca sebuah gagasan yang menarik: Jika Albert Einstein tidak pernah lahir, pada akhirnya seseorang akan menemukan teori relativitas. Bagaimanapun, jika Pablo Picasso tidak pernah lahir, karyanya tidak pernah akan tercipta. Itu adalah sesuatu yang harus kita renungkan.

Di umurnya yang ke 9, Picasso menyelesaikan lukisan pertamanya: Le Picador, tentang seorang lelaki mengendarai kuda di pertandingan banteng.

Rupanya, Picasso merupakan murid nakal dan memiliki masalah serius dengan aturan. Saya membaca bahwa dia akan “kesal pada apapun yang disuruh padanya” dan dia sering dihukum di sekolah. Pekerjaan pertama Picasso kurang menjanjikan. Dia menandatangi kotrak seni pertamanya di Paris dengan penjual lukisan Pere Menach, yang setuju membayarnya 150 francs per bulan (kira-kira 7,5 juta rupiah saat ini).

Meskipun awal kehidupannya agak berguncang, Picasso menjadi salah satu seniman paling berpengaruh di abad 20an, dan memiliki warisan abadi yang mendorong batas kreatifitas kita hari ini. Berikut beberapa nasehat yang paling saya sukai dari Pablo Picasso:

Continue reading

Melihat Kembali: The Revenant

maxresdefault

Ada film yang tak apa jika ditonton di televisi atau laptop, ada film yang tidak boleh tidak harus ditonton dari bioskop. Perbedaannya ialah tidak hanya karena audio dan visual yang berbeda dari perangkat lain, namun juga karena ada beberapa film yang memunculkan ‘aura’-nya sendiri ketika menonton di bioskop. Di tahun 2009, film Avatar 3D ialah salah satu film yang tidak akan sempurna jika tidak ditonton dari bioskop. Seriously, Avatar 3D tidak ada apa-apanya jika kau menontonnya di televisi.

Tahun ini, The Revenant hadir sebagai film awal tahun yang mengambil perhatianku. Film yang diputar hingga dua setengah jam ini dapat membuat semua orang menganga hampir tak bernafas. The Revenant menjadi film yang direview kali ini. Continue reading

Di dalam ingatanku, Kita telah Berumur empat tahun

Kau mungkin telah lupa perihal kita. Namun aku, aku akan selalu menolak lupa. Aku tidak akan melupakan perihal warna biru di antara kita, warna kesukaanku. Biru di gaun kacamata baju tas punggung heels lantai gedung kursi mata pohon langit dadamu. Warna yang mempertemukan kita di sebuah gedung berlantai 25. Tidak ada yang berencana, tidak ada yang merencanakan. Tiba-tiba saja kita ada dan itu segalanya. Ah! sungguh ironis, mengingat segala yang berakhir “a” tidak akan pernah terjadi di antara kita.

Selasa. Segala. Kita. Ada. Fa.

Aku menolak lupa ketika pertama sekali kita saling memandang di atas sana dan bertanya dalam hati apakah kita semestinya bertemu atau menganggap mata hanya cara terburuk memulai pertemuan. Lalu aku mencari kesibukan sembari kau mencari apapun yang membuatmu datang kemari. Aku bersama temanku dan kau bersama sahabatmu. Di lantai itu, aku mondar-mandir mencari alasan-alasan konyol ingin membuka percakapan yang mungkin tidak akan membuatmu penasaran padaku. Lalu di sebuah ruang, entah bagaimana kita dipertemukan dengan sangat erat. Sungguh aneh ketika yang membuka pertemuan pertama sekali ialah temanku, padamu, hanya untuk menunjukkan bahwa deduksiku padanya, ternyata benar untukmu.

Aku tidak berani menatapmu pada saat itu, padahal hanya itu yang aku inginkan sejak pertama sekali lift menyala dan kau keluar dari dalamnya. Seperti pintu kemana saja dan kau berasal dari langit yang jauh di atas langit. Langit-langit terluas dari galaksi dengan aturan-aturan abstrak yang belum dipecahkan oleh para ilmuan. Kau berasal dari sana.

Aku menolak lupa sejak saat itu aku mencoba mengakrabkan diri denganmu dan pada saat itu juga aku jatuh padamu. Kita berbagi nomor telepon genggam, yang ajaibnya aku bisa mengingatnya hingga hari ini, angka demi angka. Lalu warna kesukaanku berubah dari biru menjadi jingga, bukan jingga kuat seperti buah oranye, namun jingga lembut seperti warna matahari terbenam. Kita selalu berjumpa setelah pukul empat sore lalu membicarakan tentang segala hal.

Perihal rumah, keluarga, trotoar, awan, rumput liar, lampu jalan, bangku taman, hujan, daun basah, embun pagi, toko-toko yang sepi pengunjung, kamar kosong, beranda, kopi hitam, cangkir-cangkir, lalu-lalang jalanan, penyair yang mati sendirian, puisi, penjual permen, hiasan di jemarimu, kacamatamu yang sering patah, keringat dinginku, panggung sandiwara, teater koma, pasangan-pasangan yang berteduh usai menyalin tugas, wanita penjual buku bekas, para hokian yang ramah, tentangmu yang tak ingin kuliah di kota ini, kota yang sibuk dengan masing-masing, orang asing yang tersenyum padamu, lagu-lagu indie yang kukumpulkan untuk kita dengarkan, smoothies, es krim, milkshake vanilla kesukaanmu, pipi sayuku, kata-kata, dan kita.

Aku menolak lupa ketika kau terlambat masuk kuliah, pada saat itu sedang pukul 07.30 dan kau menghubungiku karena kau dimarahi oleh dosen dan kau sendirian di depan pintu kelasmu. Kita sama-sama belum makan pagi kala itu, lalu kau membawaku ke suatu tempat yang tak pernah kukunjungi, kita makan pagi di sana. Kau dengan sarapan yang kau bawa dari rumah, dan aku dengan susu panas dan bubur ayam. Lalu kau bercerita lagi, dengan aksen kampungmu yang sangat lucu, gigi taringmu yang berdisposisi, dan kaca mata barumu yang berwarna merah.

Lalu aku menyukai warna merah, bukan seperti warna merah darah, namun seperti merah magenta. Lembut sekali, seperti pipimu.

Aku menolak lupa perihal kau yang sangat boros sekali, setiap saat membeli milkshake vanilla atau smoothies strawberry. Menghabiskan uang ke tempat-tempat yang bahkan kau tidak bisa menghitungnya. Lalu aku hanya tersenyum, menasehatimu satu dua hal tentang bagaimana menjaga uang dengan baik – padahal aku sendiri juga sangat boros. Aku senang sekali melihat kau tertawa dan pipimu langsung memerah seperti tomat, dan aku ingin sekali mencubitnya. Kau mengatakan tidak boleh, dan aku menghormatimu.

Aku menolak lupa perihal kita yang selalu berjanji untuk berjumpa di cafe depan kampus setelah petang, jika kita tidak sedang ingin berjalan-jalan. Selalu, hampir setiap hari. Kau selalu memesankan milkshake kesukaan kita dengan warna yang selalu berbeda. Kau bilang agar kau bisa mencicipi punyaku dan sebaliknya. Seperti yin dan yang, saling melengkapi. Lalu aku mendengarkan ceritamu tentang hari itu dan kampus yang selalu tidak pernah sepi pengunjung. Kau bahagia, aku berbahagia karenamu.

Aku menolak lupa perihal suatu petang ketika hujan sedang deras-derasnya dan angkot bernomor 41 menuju rumahmu tidak lagi datang padahal waktu telah malam sekali dan hujan sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Aku menunggumu menunggu angkot. Aku menyarankan agar aku membawamu ke rumah, namun kau tidak ingin. Menjaga marwah ialah prioritasmu dan aku menghormatinya. Pukul delapan lewat tiga puluh menit, tidak ada yang lalu lalang ingin menjemputmu, membawamu pulang. Pada akhirnya aku bersikeras memintamu membawamu pulang. Kau mengiyakan dan aku terbawa membawamu.

Aku menolak lupa pada saat itu bagaimana hujan sederas badai katrina di sisi lain bumi menjadi gerimis yang selalu aku doakan kedatangannya. Lembut bercampur pirang lampu jalan. Tidak ada orang lain selain kita yang terburu-buru dan terbata-bata karena dingin. Namun punggungku yang menyentuh tubuhmu, hangat dibuatnya. Di persimpangan rumahmu, tidak ada hujan selain gerimis teduh tempat tupai menggunakan embunnya untuk menyimpan — dan melupakan — biji kacang yang ditanamnya. Di persimpangan rumahmu, aku telah merindukanmu yang bergaun putih seperti kenari. Cantik sekali. Kita sedikit bercerita dan aku menemukan rumahmu untuk pertama kalinya. Salah satu malam paling bahagia dalam hidupku.

Aku menolak lupa ketika kata-kata keluar dari jemariku seperti mata air yang keluar dari kaki-kaki bayi Ismail ketika tanah kering tersumpah tandus. Kau membuatku untuk pertama kalinya dapat menulis untukmu segala hal yang ada di dalam pikiranku dan segala hal yang ada di dalam semesta teratur di kepalamu. Aku menulismu di tulisanku lalu, kini, dan masa depan. Kau yang menuliskan padaku tulisan-tulisan itu, aku hanya menggariskannya agar dilihat orang sebagai karya seni setelah masa renaisans. Aku menjadikanmu seorang penulis biografi dari kau bangun pagi dengan rambut ikal yang lari kemana-mana hingga kau tidur lagi membacakan doa untuk semua makhluk di alam semesta.

Aku menolak lupa ketika kita berteduh seusai kau mengikuti tes di sebuah kampus lalu kita beristirahat di sanggar favoritmu. Aku mengingat lagu Payung Teduh berputar di pikiranku, dan menyanyikan Resah di mulutmu. Aku bahagia ketika lantun kita bersejajar dengan bayangan matahari dari daun-daun tempat pohon mengelilingi sanggar itu. Kau memakai gaun magenta dan hatiku memerah karenamu.

Aku menolak lupa ketika pertama — dan mungkin untuk terakhir kalinya — kita berbuka puasa bersama di mall pusat kota. Aku datang ke rumahmu, menyimpan motorku, lalu kita berjalan-jalan ke sana. Kau memakai baju hitam berukir bunga dengan perasan warna merah. Kau cantik sekali dan aku tidak bisa berjalan-jalan lama di dekatmu, aku takut luluh, cair seperti es di kutub selatan. Kita berdua berdekap hingga ke lantai tiga dan menunggu upacara pemakaman matahari menjadi perayaan terbesar dalam hidupku. Aku masih ingat, sebelum kita ingin makan malam, aku meminta foto pada pegawai agar aku punya bukti bahwa seluruh ratusan tulisanku untukmu bukan fiksi belaka. Kau mengiyakan, tapi azan sudah berkumandang. Kita hanya punya kesempatan untuk makan malam, bercerita tentang kita, lalu berjalan kembali ke rumah masing-masing. Aku masih mengingat itu, sangat. Setiap hari.

Aku menolak lupa ketika aku bersama tangga nada MI dan dibantu tangga nada SO membuat siasah bagaimana seorang bertangga nada RE dapat mengirimkan sebuah pertanda bagi keluarga FA. Bersama seorang temanku, aku menjamumu selama dua jam dari tempatku menuju istanamu saat kau dan aku sedang mendatangkan ketenangan. Tidak ada rencana apa-apa sebenarnya, namun semua berubah ketika kau mengatakan ada seorang pangeran tampan dari Turki ingin sekali bertemu denganmu — dan mungkin ingin segera melamarmu. Itu menjadi berita buruk padaku, lalu dengan dibantu oleh mereka, aku memberanikan diri untuk datang satu hari sebelum pangeran tampanmu yang berwajah pantulan mesjid biru datang menjemputmu.

Dan warna magenta dari tubuhmu membuatku jadi tak bisa berbicara apapun lagi. Siasat perang yang telah kami susun dengan matang, hilang seperti jejak kaki di pasir pantai. Aku menggagapkan gugupku di depan ayahmu ibumu saudara laki-lakimu temanku kamu. Aku tidak datang dengan tangan kosong, buku — yang tidak dijual di mana-mana — yang sudah kupersiapkan untukmu  menjadi alasan konyolku agar kau dapat berbicara denganku. Walaupun sesaat, namun itu cukup.

Aku menolak lupa perihal kau kemudian dimarahi oleh ibumu ketika ternyata kau tidak membawa kami ke lantai atas, ke ruang keluargamu. Kau sangat merasa bersalah dan aku hanya tersenyum, berimajinasi perihal apapun, segala yang benar, segala yang salah, segala yang di ambang batas. Aku mengatakan tak apa, lalu kau tenang kembali.

Aku menolak lupa perihal janji-janjiku pada Tuhan yang mungkin tidak akan pernah kutepati lagi karena aku bisa jadi tidak akan pernah menjadi milikmu. Namun aku sadar bahwa hatimu seperti tembok berlin dan kata-kataku hanya lumpur. Kau mungkin akan mengira bahwa lumpurku tidak akan pernah dapat merobohkan tembokmu. Tapi satu hal, sayang, lumpur itu akan terus melekat di sana. Hingga kau tua, hingga kau memiliki anak, hingga kau berbahagia di berandamu. Dan lumpur itu akan terus ada menjadi menyekat bagi cerita-ceritamu di masa tua pada cucu-cucumu.

Aku ingin kita tidak hanya bercerita, aku ingin kita masuk dan menjadi cerita itu. Tapi ujar Tuhan, wanita yang baik untuk pria yang baik, dan itu sudah cukup membuktikan jika aku tidak akan pernah dapat memilikimu.

Terima kasih untuk terus menjadi kita. Terima kasih telah memberikanku sebuah pandangan hidup perihal cinta, tulisan, memoar, rindu, Islam.

Ingatlah.

Empat tahun lalu, di hari ini, 26 januari, kita merayakan hari jadi setengah windu.

7 Pelajaran Dari Martin Luther King Jr. Setiap Entrepreneur Harus Pelajari

getty_85906252_2000156720009280182_78260

Tanggal 15 Januari di senin yang lalu, semua orang menghormati mendiang Dr. Martin Luther King, juru bicara pergerakan sipil Amerika, karena jasanya mengarahkan bangsa lebih dekat pada tujuannya menyamakan hak seluruh manusia. Selain pelajaran kentara yang kita dapat pelajari dari Dr. King dengan melihatnya berdiri melawan ketidakadilan, terdapat beberapa pelajaran penting untuk entrepreneur yang kita dapat pelajari dari kehidupan dan pesan-pesannya:

Continue reading