Jaring Laba-laba

1kdgsox843dypuhwoswuajw

Aku menulis tentangmu
Setiap hari

Di setiap puisi-puisi dan cerita-cerita dan coretan-coretan kau akan menemukan petunjukan yang mengarahkanmu satu langkah menuju ruang berbayang, berkabut, berilusi yang kunamakan kepalaku. Beberapa petunjuk senyap, beberapa yang lain kutampakkan lamat-lamat. Beberapa petunjuk tertulis lebih samar karena aku tidak ingin dunia tahu kegila-gilaanku terhadapmu. Aku masih mengingat dengan jelas percapakan terakhir kita di pikiranku, caramu berbicara, topik percakapan yang tidak mengarah kemana-mana, hidup seperti kita hanya dua bintang biner yang memutar satu dengan yang lain, tidak pernah bertemu, hingga satu hari, kita mungkin akan berbenturan menjadi sebuah lubang hitam tempat kita membakar diri sendiri. Kebenaran cerita kita kubuat-buat dengan tumpukan-tumpukan kebohongan, dipintal dengan cerman menjadi kata dan percakapan dan cerita tengah malam di kamar-kamar yang sunyi, kita cukup cerdas untuk tidak pernah mengungkapkan siapa diri kita sekarang, dan dahulu.

Untuk apa kita berbicara perihal kenyataan, ketika ketika telah mengaburkan segala yang ada di depan mata?

Dunia kita tidak terhenti pada batasan-batasan dari apa yang kita dapat lihat, dapat sentuh, tidak, kita telah pergi jauh, kita bermain-main dengan apa yang telah dan apa yang kita dapat lakukan. Waktu serasa tidak penting ketika kita bersama, seperti terapung seperti udara-udara di depan kita, seperti jaring laba-laba yang terlihat melayang ringan sekali ketika kau meniupnya perlahan. Ketika aku bersamamu, dahulu, aku seperti menjadi ahli fisika yang melihat keajaiban dunia dan menemukan makna di balik ruang dan waktu selama percakapan kita karena; apalah ruang dan waktu itu jika tidak berubah?

Aku tahu. Dan aku mengerti. Dan itu kejujuranku.

Dari jaring laba-laba, kita masih dapat melihat “keluar”, di mana dunia masih dapat melayang tanpa kita, tidak pernah terlintas di kepala kita bahwa kita dapat menjadi bagian dari mereka kelak.

Aku masih menulis tentangmu, Telah lebih dari setengah windu dan sembilan hari dan aku masih menghitung dari waktu-waktu kita tidak lagi berbicara. Di dalam kepalaku, aku melihat kursi tempat di mana kita biasa duduk diam, melihat satu sama lain dengan mata berbinar-binar. Cara kita, yang terbiasa menyenandungkan nada-nada, kadang, jemarimu bermain-main dengan piano lenyap ketika aku sedang duduk dan membicarakan perihal melodi. Di dalam mata kepalaku, aku melihat air mengalir di depan kita ketika kita membicarakan tentang kata-kata dan mimpi-mimpi dan perahu dan cinta.

1zw6talckezfhamdpabwusq

Aku masih menulis perihalmu. Aku cukup bodoh berpikir bahwa hari ini akan memanjang ke masa depan, jika hanya kita duduk diam, jika kita hanya ‘membicarakan’ waktu. Namun takdir, jika kita hanya memanggil bagian dari waktu yang, memiliki rencana-rencana lain, yang membisikkan di telinga-telingamu ketika aku sedang mengalihkan pandangan dan seperti itu, ketika aku membalik, kau telah hilang. Hilang bersama percapakan-percakapan, hilang bersama kursi-kursi taman, hilang bersama musik dan hilang bersama matamu. Yang tertinggal hanyalah jaring laba-laba ketika aku mengeluarkannya dari sisi yang lain.

1o7dayw4lnzhpmsr2g36udg

Sekarang, kadang-karang, ketika aku mencoba tertidur, di antara tidur dan bermimpi, aku pergi dan berdiri di depan jaring laba-laba dan mencoba melihat sepintasnya berharap dapat melihatmu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s