Mereka takut hujan

Entah mengapa, segala hal di kota ini terasa tergesa-gesa. Mobil-mobil berkejaran, orang-orang berdesakan, pikiran-pikiran berlarian, hujan-hujan berjatuhan. Tidak ada yang mempersiapkan diri, tidak ada yang peduli, hanya ada beberapa orang yang tidak punya alasan lagi selain bersembunyi di bawah kursi-kursi taman kota.

Ketika kau masuk ke kota ini, awalnya kau akan membenci segala hal. Namun lama-kelamaan, yang kau benci hanyalah dirimu sendiri dan alasan-alasan mengapa kau tak segera keluar dari kota yang terkutuk ini. Tidak ada yang salah, tidak ada yang membenarkan.

Aku tidak suka tergesa-gesa, jalanku lambat, waktuku banyak. Di antara semua orang di kota ini, aku orang yang paling santai. Aku tidak mengejar apa-apa, mereka tampak mengejar segala hal yang mereka lihat. Aku melihat mereka melihat kesepian. Aku tidak melihat apa-apa selain kesepian.

Mereka seperti itu, karena mereka takut kesepian. Ternyata, tergesa-gesa adalah satu-satunya cara melupakan kesepian sejenak, hingga mereka terlalu lelah dan pulang mengabaikan sunyi. Besok, mereka bangun pagi, takut dengan masa depan yang terlalu dekat, lalu kembali tergesa-gesa mengejar apa yang mereka lihat.

Aku benci tergesa-gesa, aku benci kota ini, aku benci mereka, aku benci hujan di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s